Wakatobi Mundur di Era Haliana-Ilmiati Daud

TEGAS.CO.,WAKATOBI – Kabupaten Wakatobi dinilai mengalami kemunduran di era kepemimpinan Haliana-Ilmiati Daud. Kemunduran itu diakibatkan banyak hal. Teranyar, Wakatobi tak lagi masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) tahun 2022.

Sebelumnya, Wakatobi ditetapkan sebagai bagian dari PSN berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.

Wakatobi pun masuk dalam 10 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) atau 10 Bali baru di Indonesia. Hal ini untuk mencapai target 20 juta kunjungan wisatawan hingga 2019.

Adapun 10 KSPN berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 adalah Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Candi Borobudur (Jawa Tengah), Morotai (Maluku Utara), Pulau Komodo-Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), Taman Nasional Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Danau Toba (Sumatra Utara), Bromo-Tengger-Semeru (Jawa Timur), Mandalika Lombok (Nusa Tenggara Barat), dan Tanjung Lesung (Banten).

Contohnya, KSPN Wakatobi terkait penguatan akses Pelabuhan ASDP Lasalimu–Kamaru dan akses menuju bandar udara di Pulau Wangi-wangi.

Namun belakangan, berdasarkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 9 Tahun 2022 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 7 Tahun 2021 tentang Perubahan Daftar Proyek Strategis Nasional, nama Wakatobi tak lagi muncul.

Beberapa daerah KSPN yang masih masuk dalam PSN Tahun 2022 ini ialah Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo dan Danau Toba.

Tak hanya Wings Air yang minggat, Wakatobi juga tidak masuk KSPN

Menurut mantan Bupati Wakatobi, Arhawi, Wakatobi ditetapkan sebagai salah satu KSPN pada akhir jabatannya sebagai Wakil Bupati Wakatobi. Kendati pelaksanaannya mulai dilakukan pada saat ia dilantik sebagai Bupati Wakatobi pertengahan 2016 lalu.

Dalam prosesnya, Kata Arhawi mengaku terus memberikan dukungan dalam bentuk kebijakan daerah untuk memperlancar pelaksanaan KSPN tersebut. Salah satunya aktif menggelar festival budaya di Wakatobi sebagai salah satu daya tarik wisatawan.

“Kita terus mendorong ciri khas budaya Wakatobi agar bisa menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Wakatobi,” katanya.

Menurut dia, wisata bahari yang sudah terlanjur terkenal di Wakatobi harus ditunjang dengan potensi wisata lainnya. Seperti, wisata budaya dan kuliner.

Sehingga, selain wisata laut yang begitu indah, ujar Arhawi, wisatawan juga dapat disuguhkan dengan identitas budaya Wakatobi dan keragaman kulinernya. Hal ini sebagai pembeda atau filter masuknya budaya luar ke Wakatobi.

“Dijadikannya Wakatobi sebagai salah satu top ten pariwisata Nasional ini tentu akan ada dampak masuknya budaya luar. Namun, untuk memfilter budaya yang masuk, kami mendorong agar generasi untuk tetap berpegang teguh pada budaya dan agamanya. Anak-anak terus kita dorong untuk sekolah dan minimal bisa baca alquran,” jelasnya.

Selain itu, kata Arhawi, di era pemerintahannya ia turut mendorong penataan infrastruktur transportasi laut, darat dan udara untuk menunjang jalur pariwisata di Wakatobi.

“Jadi, tidak hanya lautnya yang perlu dijaga, tapi harus pula didukung dengan perbaikan di darat,” jelasnya.

Soal infrastruktur udara, Arhawi pernah berusaha meyakinkan pihak Garuda Indonesia agar bisa landing dan take off di Bandar Udara Matahora Wakatobi. Hasilnya, maskapai pelat merah itu tertarik untuk mengudara di Wakatobi.

“Saya masih ingat, waktu 2019 saya yakinkan pihak Garuda Indonesia masuk beroperasi di Wakatobi dan alhamdulillah direspon,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mempertahankan agar maskapai Wings Air rute Kendari-Wakatobi tetap beroperasi. Pesawat berlogo singa ini pertama kali menjajal rute Kendari-Wakatobi pada 2012 silam.

Wings Air ini, lanjut Arhawi, harus dipertahankan karena maskapai yang terbilang kecil dan sesuai dengan kondisi Bandara Matahora. Selain itu, keberadaan Wings Air juga ini bisa menunjang penerbangan wisatawan dari Kendari ke Wakatobi.

“Kita tahu, Kendari adalah kota yang berkembang dengan daerah penyangganya banyak pebisnis yang datang. Kita tahu, daratan Sultra itu adalah daerah pertambangan dan sudah pasti banyak investor yang datang,” katanya.

Dengan hadirnya investor dari luar Sulawesi ini, lanjut dia, harusnya menjadi motivasi dalam hal promosi wisata Wakatobi. Para investor yang sibuk dengan pekerjaannya di Kendari, tentu membutuhkan tempat refreshing yang menjanjikan.

“Harusnya ini peluang. Kendari tidak jauh dengan Wakatobi, hanya butuh waktu 45 menit sudah sampai. Jadi infrastruktur transportasi udara harus disiapkan dari Kendari,” jelasnya.

Sayang, maskapai Wings Air memilih menghentikan penerbangan dari Kendari ke Wakatobi pada tahun 2022 ini.

Menurut Arhawi, hal ini bentuk kegagalan dan kemunduran dalam menunjang Wakatobi sebagai salah satu top ten pariwisata Nasional.

“Bagaimana mau bertahan menjadi pusat pariwisata Nasional jika sarananya saja tidak dipertahankan atau disiapkan,” tambahnya.

Tak hanya Wings Air yang minggat, Wakatobi juga sudah tidak masuk dalam salah satu KSPN. Padahal, kata dia, Pulau Wakatobi menjadi ikon wisata yang mewakili Indonesia Timur.

“Label pariwisata nasional ini sebenarnya menguntungkan buat daerah. Akan banyak uang yang masuk bersamaan dengan wisatawan yang hadir. Secara tidak langsung akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat di berbagai sektor,” pungkasnya.

Reporter: Rusdin