Konflik Tapal Batas, Warga Mengadu ke Dewan

TEGAS.CO., WAKATOBI – Sejumlah warga desa Haka Kecamatan Togo Binongko, Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) menyuarakan aspirasinya di kantor DPRD Wakatobi terkait persoalan tapal batas, Rabu (24/2/2021). Sebagian mereka merupakan Ibu Rumah Tangga (IRT) yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Binongko.

Jenderal lapangan, Hadiono, mengatakan sejak lama masalah tapal batas antar dua desa Haka dan desa Waloindi tak pernah ada titik temu. Sehingga hal ini butuh perhatian pemerintah.

“Dari awal terbentuknya desa Haka tahun 2007 lalu selalu diperhadapkan dengan masalah (tapal batas) yang tak kunjung selesai sampai saat ini,” ungkap Hadiono dalam pernyataan sikapnya.

Perlu diketahui, desa Haka merupakan pemekaran dari desa Waloindi pada 2007 silam, kata Hadiono, itu artinya sudah 13 tahun warga desa telah merasakan tekanan dan intimidasi, seperti cacian dan fitnahan.

“Kami ingin kemerdekaan yang sesungguhnya,” imbuhnya.

Dia kembali mengatakan, kisruh tapal batas antar dua desa itu tidak akan terjadi jika semua berpijak pada dasar aturan pembentukkan desa, yakni Peraturan Daerah (Perda) No. 35 tahun 2007.

“Namun, aturan itu tak membuat warga Haka bisa leluasa secara penuh untuk mengelola sumber daya alamnya,” ujarnya.

Bahkan, pernah terjadi kasus pengrusakan tapal batas 2007 lalu, sambung dia, sampai dengan masalah denda oleh pemerintah desa Waloindi melalui Perdes serta pembagian hasil jerih payah warga, hingga yang terbaru aksi penyerangan antar desa.

Lanjutnya mengungkapkan, bahwa semua itu yang dirasakan oleh warga selama ini. Sehingga hal ini perlu perhatian pemerintah, terkhusus DPRD, dalam menuntaskan masalah tapal batas antar desa tersebut.

“Kehadiran kami disini untuk mendesak DPRD agar memanggil Camat Togo Binongko, Kepala Desa Waloindi dan Kepala Desa Haka. Meminta Pemda untuk menerbitkan perbub, dan juga meminta DPRD untuk membentuk pansus tapal batas desa Haka,” akunnya.

Anggota DPRD fraksi Golkar, Badalan, selaku penerima aspirasi, mengatakan terkait permasalahan yang dihadapi oleh warga desa Haka merupakan masalah serius. Sehingga hal itu pun nantinya akan dilaporkan kepada pimpinan.

“Kami akan menggundang pihak terkait untuk membahas permasalahan ini secara bersama-sama,” ucapnya.

Putra asli Kaledupa ini sempat tersentuh melihat pengorbanan IRT yang ikut dalam barisan itu, yang rela menyebrang laut dan meninggalkan kampung untuk memperjuangkan hak mereka.

“Saya sedih karena kita semua punya ibu. Kenapa saya sedih? karena saya melihat ibu-ibu hadir dan rela menyebrang laut untuk datang disini hanya untuk memperjuangan hak mereka. Dan ini adalah bentuk pengorbanan,” tandasnya.

Reporter : Rusdin

Editor : YA